UN SMA udah berlalu beberapa waktu dan sekarang para siswa SMA tinggal menunggu pengumuman dari hasil UN nanti tanggal 25 Mei. Tapi menyoroti betapa kacaunya UN yang terjadi yang membuat publik mengatakan kalau Ujian kali ini tak bisa dikatakan sebagai Ujian Nasional, lebih tepatnya sih dikatakan Ujian 2/3 Nasional, karena ada 11 provinsi dari 33 provinsi yang tidak bisa serempak dilaksanakan.
Kalo ditilik lebih dalam, akar dari masalah kacaunya UN ini tidak lain tidak bukan adalah mengenai kebijakan pemerbenaintah untuk mengadakan 20 paket soal ujian, inilah yang menyebabkan banyak pihak-pihak yang berusaha membuat kisruh sehingga UN menjadi tidak lancar. Sebenarnya dipersulitnya format UN ini adalah ketidak percayaannya pemerintah terhadap siswa-siswi Indonesia.
Bagi seorang siswa UN itu adalah sesuatu yang telah lama dinanti dengan hasil yang kadang tidak terduga. Karena nasibnya selama 3 tahun menempuh pendidikan dipertaruhkan pada hari-hari itu, memang sekarang format yang menggunakan nilai hasil UN sebagai satu-satunnya standar nilai untuk kelulusan sudah tidak dipakai, sekarang nilai-nilai siswa selama 3 tahun perjalanannya menempuh pendidikan juga ikut diakumulasikan.
Dengan format seperti ini seharusnya seorang siswa bisa lebih mudah lulus, mungkin pemerintah merasa kalo bisa mudah lulus maka 'greget'nya kurang maka dibikin jadi 20 paket soal. Sebenarnya saya bukannya tidak menyetujui mengenai 20 paket soal ini, tapi alangkah baiknya jika format paket soal ini tidak setiap tahun berubah, 2 tahun yang lalu format soalnya ada 5 paket dengan pola soal yang selalu sama, setahun yang lalu ada 5 paket tapi dengan pola soal yang selalu berubah setiap harinya dan tahun ini yang paling mencengankan adalah sampai 20 paket.
Menurut saya, pemerintah ini bisa dikatakan tidak konsisten, harusnya pola perubahan paket soal ini sudah direncanakan selama beberapa tahun dan diterapkan selama minimal 3 tahun, untuk dapat mengevaluasi bagaimana pendidikan di Indonesia. Selain itu pembuatan 20 paket ini bukan merupakan sesuatu yang efisien, tentu saja membuat 20 paket pasti membutuhkan waktu yang lebih lama dari hanya 20 paket soal saja.
Tapi begitulah kondisi bangsa kita yang cukup memprihatinkan. Sebenarnya Ujian yang sebenarnya puluhan ataupu ratusan kali lebih berat daripada UN itu sendiri, ujian itu adalah bagaimana dia menentukan masa depannya dan jadi apakah dia nanti dengan modal selembar Ijazah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar